SEJARAH DESA HULOSOBO

11:58 PM


Pra kemerdekaan

        Munculnya Desa Hulosobo tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia, khususnya Purworejo. Pada masa Perang Diponegoro sekitar tahun 1830, ada seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang tidak mau menyebutkan jati dirinya. Beliau hanya mengaku sebagai Panembahan Sang Ki. Panembahan Sang Ki merupakan seorang pengikut yang melarikan diri ke hutan belantara di wilayah perbukitan Menoreh, yaitu wilayah sebelah barat Yogyakarta sampai di suatu wilayah yang masih sedikit penduduknya dan belum memiliki nama. Beliau melarikan diri dari Belanda setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, sehingga merahasiakan identitasnya.
            Pada wilayah tersebut beliau mendirikan padepokan yang diberi nama Andha Sewu, berada pada Bukit Sebucu. Kata Andha Sewu merujuk pada jalan menuju padepokan yang menyerupai tangga yang berundak-undak dari Sumur Sebatur sampai puncak Bukit Sebucu. Saat melarikan diri, beliau membawa tujuh orang rekan, kemudian mengundang rekan lain yaitu Ki Sobo Kerto dan Nyi Sobo Kerto (nama samaran).
Sang Ki memerintahkan Ki Sobo kerto dan Nyi Sobo Kerto beserta pengikutnya menuju padepokan Andha Sewu dan menugaskan untuk menyediakan logistik perjuangan Pangeran Diponegoro. Suatu ketika, Ki Sobo Kerto dan Nyi Sobo Kerto menghilang dan ditemukan di Kayu Lawang (sekarang menjadi tempat pemakaman umum Desa Hulosobo) hanya tersisa tulang belulangnya karena dimakan harimau. Dalam bahasa Jawa kematian dua orang itu disebut sebagai “diucel-ucel macan” sehingga di Desa Hulosobo Ki Sobo Kerto dan Nyi Sobo Kerto dikenal sebagai Kyai Ucel dan Nyai Ucel.
            Setiap kali ditanyai asal-usulnya, Panembahan Sang Ki hanya menjawab, “Kawulo Sesobo” atau kawulo berarti saya dan sesobo berarti berkelana. Dari kata tersebut lambat laun istilah Kawulo Sesobo berubah menjadi Kulo sobo, hingga akhirnya wilayah tersebut diberi nama Hulosobo. Pemberian nama tersebut terjadi pada bulan Rajab sekitar tahun 1840. Untuk mengenang peristiwa tersebut, pada setiap bulan Rajab sampai sekarang diperingati dengan acara Merti Desa.
            Setelah Panembahan Sang Ki menetap di Padepokan Andha Sewu, datang utusan dari Kerajaan Mataram (Yogyakarta) bernama Ki Bandawi yang ditugaskan untuk menjemput Panembahan Sang Ki kembali ke Keraton Mataram. Namun Panembahan Sang Ki tidak mau kembali ke keraton, ia tetap tinggal di Padepokan Andha Sewu sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kayu Lawang. Ki Bandawi pun akhirnya ikut menetap di Andha Sewu hingga meninggal dan dimakamkan di dekat makam Panembahan Sang Ki di Kayu Lawang. Panembahan Sang Ki beserta pengikutnya sampai saat ini dijadikan Pepunden/Perintis Desa Hulosobo.

Sepeninggalan Panembahan Sang Ki, masyarakat Hulosobo mulai mencari pemimpin/lurah desa. Sampai saat ini sudah ada 10 lurah yang memimpin Desa Hulosobo, namun karena kurangnya pencatatan, hanya 9 lurah saja yang masih diketahui namanya. Lurah yang pernah memimpin Desa Hulosobo antara lain :
1.    Rono Wijoyo
2.    Kerto Wijoyo
3.    Joyo Wijoyo
4.    Cokrorejo
5.    Padmo Wijoyo (1945-1976)
6.    Supardi Kerto Sentono (1976-1989)
7.    Sukirman (1989-1997)
8.    T. Soenaryo (1997-2007)
9.    Ngatiyah (2007-sekarang)

Pasca Kemerdekaan

            Setelah Indonesia merdeka, pihak Belanda yang belum menerima kekalahan mulai melakukan agresi militer ke Wilayah Indonesia. Pada saat Agresi Militer Belanda ke-2, sebagian wilayah Jawa menjadi incaran agresi tersebut, Salah satunya Kabupaten Purworejo. Saat pihak Belanda menyerbu Purworejo dan mencari pemimpinnya, bupati pada masa itu yaitu Muritno mengasingkan diri ke wilayah Hulosobo mengingat wilayah tersebut masih sedikit penduduknya.
           Selama Agresi Militer Belanda ke-2, pemerintahan Purworejo untuk sementara dikendalikan dari Hulosobo, sehingga secara tidak langsung Desa Hulosobo pernah menjadi ibukota Purworejo meskipun hanya sementara. Untuk meresmikan pindahnya pusat pemerintahan, Bupati Muritno menulis di sebuah batu dengan aksara jawa dengan isi bahwa Kabupaten Purworejo dikendalikan dari Hulosobo. Namun batu tersebut sekarang sudah hancur dan dijadikan pondasi rumah karena ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya batu/monumen tersebut.
           Setelah Agresi Militer Belanda reda, Bupati Muritno kembali ke kantornya yang berada di Kota. Sebagai rasa terima kasih terhadap masyarakat Hulosobo, pada saat kembali ke kota bupati Muritno membawa beberapa warga Hulosobo untuk bekerja di Kantor Pemerintahan Purworejo.

Struktur Desa Hulosobo (2016)

Kepala Desa                          : Ngatiyah
Sekretaris Desa                     : Sumaryanto
Kaur Pemerintahan                : Sanusi
Kaur Kemasyarakatan           : Sudi Utomo
Kaur Pembangunan               : Rakhmat Basuki
Kaur Keuangan                      : Asman

Potensi Desa Hulosobo

              Masyarakat Desa Hulosobo sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak. Di desa ini sudah ada kelompok tani atau GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani). Hasil bumi yang dapat ditemukan di Desa Hulosobo antara lain seperti cengkeh, manggis, durian, kelapa, dan kelengkeng. Sampai sekarang masih perlu adanya peningkatan pengelolaan terhadap hasil bumi tersebut karena kebanyakan hasil bumi yang ada langsung dijual mentah tanpa diolah dahulu, sehingga produksi desa masih kurang.
           Sedangkan dari sisi peternak Desa Hulosobo hampir semua masyarakatnya memiliki hewan ternak berupa kambing PE (Peranakan Etawa). Dulu Hulosobo pernah menjadi pusat bibit peranakan etawa dengan kualitas paling bagus di Kecamatan Kaligesing, namun karena banyak pejantan yang dijual sehingga sekarang mulai menghilangnya bibit peranakan etawa unggulan di Hulosobo. 

You Might Also Like

3 comments

  1. Mantap tenan ceritane,, Terimakasih untuk kakak" KKN-PPM Universitas Gajah Mada 2016 yg tlah mmbuat blog tntang desa saya yaitu desa hulosobo, sblumnya maaf jika saya berargumen,, saya mndngar cerita dari simbah" saya, bahwa katanya desa hulosobo itu sejarahnya trdapat ular besar yg sdang sobo dri rawa pening. lalu sejarah desa hulosobo yg benar itu yang mana,, saya mnyarankan untuk pembuat blognya lebih di lengkapi dan lebih detail lagi ya,, matursuwun.

    ReplyDelete
  2. Ini sejarah yang benar. Terimakasih.

    ReplyDelete
  3. Ternyata sejarahnya begitu to . Baru tau . Mksih

    ReplyDelete

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe